Pelangi memiliki banyak warna. Hidupku juga penuh warna. Warna-warni hidup tergurat indah oleh pena dalam bentuk kata disusun menjadi untaian kalimat bermakna.
Senin, 11 Februari 2013
Welcome to Semester 6 !
Welcome to Semester 6 ! Agenda yang terpampang di smartphone. Tanggal 11 Februari 2013, dan entah kenapa merasa sangat tidak produktif di liburan ini dan itu patut disesali. Setelah liburan ke Dieng tanggal 27 Januari 2013, gue habiskan waktu liburan dengan bermalas-malasan di rumah. Kalau dirunut, kerjaannya: solat subuh, baca Quran, tidur lagi, bangun liat SMS, nonton tv, mandi, sarapan bahkan buat sarapan, anter adek sekolah, nonton tv, browsing, jemput adek sekolah, solat Zuhur, happy time with adek umi ayah, solat Ashar, nonton tv, solat Maghrib, bimbing ngerjain pr adek, cuci piring, nonton tv, tidur. Paling kalau mau modif, cuma pas KRS online dan kunjungan ke pesantren adek gue yang pertama terus reuni sobat SMP.
Saat semua rapi, umi nggak lupa buat merapikan 'oleh-oleh' yang akan gue bawa untuk teman kos tercinta. Inilah yang membuat iri. Sering banget temen-temen yang dari luar pulau memberi oleh-oleh di kos, dan gue secara orang jabodetabek yang nggak tau harus bawa apa, jadilah gue mempersembahkan kue tradisional 'cucur' buat temen kos. Hha. Saat gue memamerkan gue bawa oleh-oleh, Tiara said "Kayak emak-emak lo bawa cucur"
Kebiasaan gue dianter sama ayah tercinta kalau pulang di hari kuliah. Dari rumah jam 6 pagi dan samapi di kos jam 8 kurang. Padahal, katanya naik kereta pun bisa (kata temen yang naik kereta). Secara gue anak yang berbakti kepada orang tua makanya gue dianter ama orang tua *apa hubungannya. Di kos, gue liat ada Tiara, Tri, Lupita, dan Icha yang bersiap-siap kuliah pagi. Selanjutnya datang teteh yang merupakan malaikat di kos ini. Gue segera merapikan buku dan menyiapkan buat praktikum hari pertama ini (padahal nyiapin jas lab doang). Katanya, di hari pertama ini, praktikum Kultur Jaringan dan Kimia Analitik nggak ada jadi agendanya ambil IP dan konsultasi.
Lancar! Pak Iman, untungnya ada di ruangannya. Pembimbing gue ini adalah sekretaris departemen yang cool abis, santai banget orangnya. Pas gue liat buku rekaman konsultasi, selama ini gue baru 2 kali bimbingan padahal temen-temen udah ada yang 3 malah 4. Konsultasi kali ini bareng Uli dan Tiara yang ceritanya sekalian tanya-tanya tentang bimbingan skripsi.
Pak Iman liat rencana studi semester 6 gue, yang katanya hanya ada waktu 3 jam buat pacaran, beliau bilang "Nggak apa-apa nih? Pacarannya kapan? Tapi belum kehitung sih Sabtu, Minggu. Hha" Aduh, emang bapak yang satu ini baik banget urusan beginian. Lagian, Pak saya mah pacaran sama buku aja deh di perpus. Lanjut liat IP gue yang katanya lumayan. Lanjut dengan celoteh tentang skripsi. Topik yang ditawarin Pak Iman ada 3, yaitu tentang bakteri metanotrof, nitrifikasi, dan quorum sensing. Dari ketiganya, gue tertarik tuh sama quorum sensing, yang intinya bagaimana mem-block suatu sistem dari bakteri patogen sehingga bakteri patogen itu tetap hidup namun tidak berpatogen. Keren, tuh, kayaknya...
Kata beliau, "Ya nantilah, kalian belajar dulu, baru setelah itu dapat apa yang diminati. Kalau hal yang disukai kan walaupun berat tetap tersenyum ngerjainnya. Coba kalau nggak minat, kayaknya beraaat banget. Ya, kan?" That's right!
Setelah menapaki 11 Februari 2013 hingga pukul 11.00 WIB, gue berharap bisa membuat dan menjalankan agenda-agenda gue selanjutnya. Semester 6 yuk fokus ke akademik, pl, dan organisasi.
Btw tentang organisasi, nanti malam, PJ Rumah Harapan 2013 (Febri) lagi semanget mau membicarakan tentang RH sama gue nanti malam. Semoga program binaan ini dapat terorganisir dengan baik dan sukses! Aaaamiiin...
Jumat, 08 Februari 2013
Don't say 'goodbye'
Jumat, 8 Februari 2013 adalah hari yang Muthe tentuin dan disambut OK sama Kame, tapi sobat lainnya yang bisa gue hubungin adalah Mpeb dan Nagin. Masalah Chika dan Marlina udah ditangani sama Kame. Mpeb said Yes but Nagin said I dunno. Masalah ketemuan kayak gini sebenernya gue nggak mau ribet, intinya ketemu dulu dan selanjutnya ngapain, itu dimusyawarahkan bersama.Selain itu, gue juga paling males kalau kelamaan cari waktu ketemuan, ada 3 orang aja yang mau ketemu, gue oke aja...
Jadilah, kawanan berkumpul di Gramedia, Depok pukul 11.00 WIB yang padahal janjian pukul 10.00 WIB. Sempet pangling liat mereka berbeda apalagi Kame yang saat ini udah ber-hijab, kami membuat gaduh Gramed.
Waktu membuat kita terpisah, tapi waktu pun memperbolehkan kami buat ketemu. Ya, kan... selagi ada waktu yang mengizinkan dan semua terkungkung sama kangen masing-masing selama 6 tahun (kira-kira), kami menyempatkan waktu satu hari buat lunasin itu...
Setelah puas check harga dan kontennya, gue berhasil membawa dua buah buku yang harus gue beli. Kami melangkahkan kaki ke Margo City. Sempet kaku juga dan mau bahas apa, gue mulai berceloteh sana sini. Diawali sama topik tentang 'pacar' Muthe lagi mesranya sama pacarnya se-univ, Mpeb yang baru gue tahu ternyata udah dua tahun menjalin kasih dengan teman SMAnya, Kame yang menjomblo yang ditemani sama gue juga yang menjomblo. Sempet kontak sama Nagin, tapi sobat gue satu itu katanya lagi mempersiapkan diri ke Pura jadi dengan menyesal, dia nggak ikut kumpul. Chika yang katanya ada acara di kampus dan Marlina yang nggak bisa dihubungin serta Ayyi yang nggak tau kita ngehubunginnya lewat apa. Mereka berempat nggak dateng, tapi seenggaknya ada awalnya kita untuk bersua kembali, mengenang lagi masa-masa SMP dulu.
Mulai lapar sama gosip SMP, omongan mulai merembet ke teman-teman lain di SMP, tapi untuk sekedar bercanda ya nggak apa-apalah toh nggak menjelek-jelekan juga. Disebut kembali nama yang bikin gue selama 3 tahun nggak bisa suka sama cowok lain, yang pada akhirnya 'cintaku bertepuk sebelah tangan'. Sekarang, gue nggak tau menau kabar cowok itu dimana dan gimana. Udah nggak penting lagi. Terus Kame yang lagi dideketin sama salah satu temen SMP baru-baru ini dan dia takut nanggepinnya gimana.
Sekarang, gue dan Kame mulai cari makan, akhirnya ketemu yang namanya 'Mie Tarik' yang daritadi jadi perhatian karena mas-masnya banting-banting mienya. Harganya lumayan dan porsinya lebih dari lumayan. Mpeb dan Muthe membeli ramen. Terakhir, gue lah yang sulit menghabiskan makanan gue karena menurut gue, rasanya kurang mantap dan porsinya itu loh bikin mabok. It's enough!
Bingung mau ngapain lagi setelah Sholat Zuhur, kami berempat pergi ke photobox. Sebenarnya, itu keinginan gue di awal, tapi pas liat harga yang terpampang Rp25000 buat 4 foto, nggak jadi. Kata Muthe "Mending pake aja sih. Kan sepuasnya dan gratis lagi" OK
Tempat enak buat foto mengarahkan kami ke Platinum, mumpung lagi sepi, puas-puasin lah kami mendokumentasikan kebersamaan ini. Akhirnya, dengan cepat juga memutuskan buat nonton Mama. Mama dimulai pukul 15.00 WIB dan kami segera ke Giant untuk membeli snack. Pintu theatre pun telah dibuka, di dalam masih sepi dan lagi-lagi gaya di depan kamera HP.
Sekedar review, film Mama ini bergenre horor, pastinya adegan ngagetin andalannya. Mama berkisah tentang seorang ibu yang sangat cinta sama anak bayinya hingga mati pun mencari anaknya itu. Suatu ketika, seorang ayah yang frustasi dengan krisis ekonominya, membunuh rekan kerja dan istrinya. Dua anak ayah tersebut dibawanya sampai terjadi kecelakaan dan sampailah mereka di sebuah rumah kayu. Saat ayah mau membunuh anak pertamanya, Victoria. Mama datang. Dan mulailah kisah kedua anak itu, Victoria dan Lilly dirawat dengan cara Mama. Lima tahun setelah itu, kedua anak itu ditemukan dengan kondisi yang memprihatinkan, diasuhlah mereka dengan Paman dan Bibinya serta dijadikan bahan riset oleh seorang Profesor. Victoria dan Lilly menunjukkan gejala anti sosial dan hanya berbicara dengan Mama yang tidak dilihat oleh orang lain. Victoria mulai belajar untuk menceritakan siapa Mama dan akhirnya menunjukkan sikap sayangnya kepada Bibinya. Namun, Lilly yang terbilang masih kecil untuk itu, ia tetap sangat mencintai Mama. Mama sangat cemburu sekaligus marah terhadap orang-orang yang mencintai kedua anak itu. Dan mulai melakukan teror. Profesor mulai mengetahui rahasia Mama, namun sayang Prof ini dibunuh oleh Mama. Di adegan terakhir, Paman dan Bibi terus meminta untuk mengembalikan Victoria dan Lilly dari tangan Mama yang akan membawa mereka ke alamnya. Bibi menukar mereka dengan jasad bayi Mama yang Mama cari. Namun, Lilly lebih memilih untuk bersama Mama. Berakhir dengan kehadiran seekor kupu-kupu berwana ungu jelmaan dari Lilly dan Victoria, Paman, dan Bibi berpelukan di tebing tempat bunuh diri Mama.
Gue cukup terkaget-kaget saat 'Mama'nya keluar yang secara tiba-tiba. Dan pastinya, udah nggak malu lagi buat teriak di gedung bioskop itu. Aaaaaaargh...
Sholat Ashar, lalu kami ke Electronic City ngeliat-liat kamera. Abis itu, duduk kembali di foodcourt transfer foto-foto. Sholat Maghrib dan pulang...
Jangan katakan 'selamat tinggal' karena itu akan memhapus harapan untuk bertemu kembali. See you, pals... Semoga kita bisa bersua dalam keadaan yang lebih baik dari ini :)
Minggu, 30 Desember 2012
Ciyeee udah gede...
Tadaaa... Liburan di Garut dan jauh dari dunia internet menjadikan kami lupa lamaran kami. Setelah turun dari Gunung Papandayan, eh wow dapat SMS bilangnya "Selamat yu guys, yu dapet diterima di tes calon tentor" (intinya begitu). Dan 2 hari lagi kami harus ke Bogor dan ikut tes. Gembira... (padahal baru ikut tes).
Malamnya sebelum ke Bogor, aku terus di depan komputer berhubung internet, cari cari bahan SD SMP. Baca-baca... karena di SMS pemberitahuannya, kami akan tes akademik dan microteaching. Sampe jam 1 malam... mata mulai pusing dan kepala mulai samar... Matiin komputer, tidur.
Besoknya... hari H. Aku dan Liplip bertemu di St. Bogor janjian jam 11 pagi. Naik angkot 03 dan mulai celingukan mencari alamatnya karena sebelumnya belum tahu. Ketemu sama Akang manis dan ternyata dia juga mau ikut tes, kami mencari tempat bimbel tersebut. Yuhuu gampang juga.
Hati kami mulai nggak keruan. Dag dig dug...
Urutan kegiatan kami :
- Kami bersapa bapak/ ibu yang ada di sana
- Registrasi ulang dengan mengisi nama, bahan ajaran, no. hp
- Sholat Zuhur
- Tes kepribadian. Dan aku liat hasil pilihanku, condong A dan B, Liplip A dan D. Yah begitulah... Mulai bingung apakah ini kepribadian ekstrim atau nggak... Ah, bodolah, yang penting jujur.
- Tes Microteaching. Sebelumnya, aku udah mempersiapkan materi kelas 5 SD, Adaptasi Hewan Thp Tumbuhan. Dan di tes ini, dilihat cara mengajar dan percaya diri. Karena aku orangnya lupaan, buat aja deh catatan kecil pas presentasi bisa liat sedikit-sedikit. Hehe... Aku dipanggil, dan rasanya tuh lupa semua materi. Kaku mulai terasa pas memperkenalkan diri, aku mulai berceloteh ttg materi. Sok asik, sok ramah, sok oke, pokoknya aku keluarin semua jurus2 sok. Hasilnya, menurut aku garing, nggak mantep. Akkkh...
- Tes Akademik 2 jam. Inilah tes terlama dan terlapar. Ada psikotest, tes angka, tes seri. Semuanya bikin mumet... Ya, lakukan yang terbaik aja deh (diisi semua)
Rabu, 26 Desember 2012
KB3 (Kamus Besar Bahasa Ble'e)
Berawal dari Aje, sang komti asli dari betawi utara. "Ngablu lu"
-,-a apaan tuuuuuh?
Jadi, ngablu itu artinya ketamak-ketimik. Tahu kan? Aduh masih nggak tahu? Capek deh
Ada lagi kosakata indah yang lain... LADOK dan TEMBIK. untuk kata ini, mohon saya butuh informasi arti katanya, hahaha. emang kurang asem tuh temen gue nggak mau kasih tau.
Beralih deh, rembik. Rembik itu rembug sodare-sodare, kosakata ini dapet dari Arif si ble'e. Mau lainnya? Boleeeeh, kasih dah. Tapi nggak lupa madang kan? Hahaha atau mindo dulu dah biar nggak keroncongan belajar bahasanya.
Oke lanjut, dengan bahasa yang mudah deh, layaknya pere, THB, bokin, tesi... nah, itu mah gampang. pasti tau dong, tengsin banget sebagai warga lokal gue nggak tau bahasa itu. hahaha ini lebih dari sekedar pengetahuan karena ini harus dipraktekan setelah sekian lama gue terjebak di sekolah yang terdiri atas orang-orang asing alias beda sosbud dan sekarang gue dapet ngomong bebas tapi nggak nyablak kok tanpa perlu translate. Senangnya...
Senangnya ngerjain temen yg nggak tau kata-kata tersebut. gue sih punya saran buat yang nggak ngerti kosakata indah itu, buka KB3 alias kamus besar bahasa ble'e... nah, lakukan sana! atau mandi dulu dah biar nggak pada bengu mangap-mangap mikirin beginian. Oke kan? Pasti! Laksanakan segera!
*ketamak-ketimik=banyak tingkah. pere=libur. mindo=makan makanan kecil/ngegadoin. madang=makan. tesi=sendok. tengsin=malu. bengu=malu. selanjutnya cari sendiri...
Senin, 17 Desember 2012
Kecewa
Senin, 10 Desember 2012
Obi, keinginan dan pecahkan!
Ayah pernah menjanjikan pada Obi, suatu hari akan dibelikan laptop baru sesuai keinginan Obi. Obi telah mengatakan hal ini kepada teman-temannya. Namun, sampai detik ini, janji itu belum ditepati oleh sang ayah. Obi terus meneror ayahnya dengan SMS dan telepon. Obi sangat kecewa, namun apa yang mesti ia lakukan, sedangkan ia pun tak punya uang untuk membelinya. Kepalang, ia telah menceritakan janji ayah kepadanya, dan rasa malu pun menjalar di hatinya.
Suatu hari, Obi dan Tika sedang membaca buku di perpustakaan, terpikir liburan yang sebentar lagi datang. Mereka merencanakan sebuah liburan yang sampai-sampai mereka mencari tahu apa-apa tentang tujuan mereka. Obi, yang selalu menginginkan sesuatunya, merasa ia akan menepatinya dengan jarak waktu dua bulan. Dan, Singapura, tujuan liburan mereka.
Saatnya pulang, bibir sumringah terpancar karena Obi tahu, ATMnya akan bertambah isinya. Beasiswanya sudah turun, ia ingin ke dokter kecantikan, membeli pakaian, membeli sepatu, dan menyisihkan untuk liburannya. Semua akan tertata rapi dengan uang ini. Di mobil umum, ia terus membayangkan model sepatu apa yang akan ia beli. SMS dari Ibu masuk, "Bi, kamu bisa bantu Titi tidak? Titi Desember ini akan study tour, Ibu dan Bapak tidak punya uang. Beasiswa kamu ya dipinjam dulu."
Bibir pun tak semeliuk perahu, berubah menjadi datar. Apa yang mesti ia lakukan sedangkan keluarga sangat membutuhkannya. Pasrah, terbanglah bayangan sepatu itu dalam benaknya. Kecewa? Mungkin. Tapi, ia sadari segera bahwa keikhlasannyalah yang dapat menambah pahalanya. Pengusikan secara tiba-tiba itupun berbuah pada pemikiran untuk pembatalan rencananya ke luar negeri. Tak bisa mengetik kata-kata untuk pembatalan kepada Tika, ia urungkan dulu niatnya, mungkin nanti ia cukup bisa untuk memberitahu hal ini. Payah, pikiran itulah yang ia takutkan dikatakan Tika padanya.
Di rumah, ia usir pikiran-pikiran uang beasiswa itu. Ia ingin bebas menikmatinya, tapi hanya orang tidak tahu diuntung yang membiarkan Bapak Ibunya susah. Gundahnya pun berubah pada maslah kebingunannya. Bulan ini adalah bulan perekrutan banyak organisasi kampus. Ia masih berputar-putar pada dua pilihan, organisasi tingkat kampus atau tingkat himpunan profesi. Ia terus menimbang dari keduanya. Organisasi kampus itu telah dijalaninya selama dua tahun dan asyik bahkan sangat kekeluargaan. Dan kalau ia mau, ia tinggal SMS kepada Andi, si ketua dahulu dan ia bisa langsung direkrut pada masa jabatan selanjutnya. Namun, jika aku memilih lainnya, lalu apa hanya untuk mencari wajah baru?
Mulai kegundahan ini membuatnya tidak nyaman pada tempatnya sekarang, ia beranjak, dan mulai berdiskusi dengan Ibunya. Ia rasa, ini tepat. Titi, adiknya akan berangkat dua minggu lagi dan membutuhkan uang sebesar 400 ribu. Celah! Dan kenapa ia tidak bicara dengan ibunya dari tadi. Kalau begini, ia masih bisa ke dokter, dan bayangan model sepatu serta baju mulai membuatnya tersenyum. Ia segera bergegas, mengganti pakaiannya dan pergi.
Tidak ada yang menandingi senyumnya saat ini karena ia telah menunaikan apa yang ia inginkan, kegundahan pun lalu... Terlampiaskan sebagian... Pulang, ia terus berpikir untuk mencari jawaban dari kegundahan lainnya, pilihan untuk terus menteror bapak dan pilihan organisasi mana yang tepat. Angin baik menerpa otaknya, menemukan celah, dan berusaha rela. Uang beasiswa ini masih ada sedikit, besok ia berniat untuk membetulkan leptopnya yang lama, daripada tersiksa terus berharap suatu hal yang datangnya entah kapan, lebih baik ia menggulung waktu menunggunya dan memenuhi kebutuhannya untuk memiliki laptop, yang penting saat ini ia punya, pikirnya.
Seperti domino, pikirannya kini sedang bagus. Ia pecahkan jawaban pada hatinya untuk bergabung di organisasi mana. Himpunan profesi, ia rasa ada angin segar untuk berorganisasi. Ia bosan pada kekurangan uang di keluarga ini, selanjutnya berpikir untuk bekerja paruh waktu. Mungkin dengan himpunan ini, ia memiliki waktu yang lebih luang dibanding bergabung pada pilihan lain. Dan esok adalah perekrutan organisasi ini, maka ia sudah mantap pada pilihannya.
Ia terus menatap telepon genggamnya, akan dikirim atau tidak. Pembatalan rencana yang sudah direncanakan dengan matang, ia harus pupuskan itu dan khawatir membuat Tika kecewa. Ia urungkan kembali mengirim SMS. Mungkin, ini akan lebih baik jika dibicarakan langsung dengan Tika. Apapun yang akan dikatakan Tika, ia terima karena ia telah memilih keluarganya, dan terus menekan keinginannya jika itu bertentangan dengan masalah keluarga. Ya, esok pula ia akan menyelesaikannya.
"Oh, esok semoga engkau tidak menjadi esok. Saat kutempatkan diriku di esok, ku takkan mengatakan esok. Hari ini! Akan kutekadkan semua berlalu di hari ini. Esok, yang akan kukatakan hari ini" harapnya begitu meluap dan bertambah yakin saat berkumpul di ruang tengah bersama keluarganya.
Minggu, 09 Desember 2012
Aku dan Tuhanku
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba yang tak luput dari lupa karena sebagian dari waktuku aku pernah melupakan-Mu
Y Allah, ampunilah dosa-dosa hamba yang selalu merasa takut dan sebagian dari rasa takut itu bukan kepada-Mu
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba yang sering berburuk sangka dan sangkaan itu juga sebagian untuk-Mu
Astaghfirullah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
Subhanallah , sesungguhnya Engkau Tempat Kembali dan sebaik-baik tempat curahan hati
Allahu Akbar, sesungguhnya Engkau Maha Besar dan Kuasa atas segalanya
Malam ini, aku sangat hampa. Seperti daun yang gugur dari tangkainya, terhempas angin, dan tidak berdaya. Selalu mengikuti arah angin membawanya. Bahkan anak manusia ini lebih tak berdaya dari itu.
Pukul 22.57. Sampai saat ini, aku bingung dengan jalan hidupku sendiri, sebentar ingin ini, lalu ingin itu. Semua segera terlaksana dan segera puas, semua tak terjamah dan aku sangat kecewa. Sebenarnya, hal itu semu, mudah menguap dan enyah. Hambar dan tawar. Seperti apakah itu... Aku katakan saat ini, uang ini cukup. Lalu, uang ini pas. Kemudian, uang ini tidak cukup!
Akan terus begitu?
Hanya ini yang aku lakukan saat ini, terkulai menghadap-Mu.