Tampilkan postingan dengan label dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dewasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2014

tobewow: Ukuran kedewasaan

Cahyadi Takariawan

Hidup berumah tangga memerlukan kedewasaan sikap dari suami dan istri. Banyak masalah atau konflik
yang bermula dari ketidakdewasaan dalam bersikap.
Untuk itulah diantara persyaratan menikah adalah, kedua calon mempelai sudah dewasa. Lalu, apakah ukuran kedewasaan seseorang?
Coba perhatikan, apakah anda pernah melihat orang tua yang bersifat kekanak-kanakan? Sementara anda melihat pula anak muda yang sifatnya sangat dewasa?
Ternyata dewasa tidak selalu identik dengan usia.
Kei Savourie saat memberikan kuliah di kelascinta.com tentang ukuran kedewasaan, mengajukan beberapa pertanyaan berikut:
1. Apakah Anda sudah mengurus diri Anda sendiri, merawat diri Anda sendiri? Karena bila Anda belum
bisa mengurus diri sendiri, Anda tidak akan mungkin bisa mengurus orang lain.
2. Apakah Anda sudah mengambil keputusan sendiri atau masih diputuskan oleh orang lain? Karena bila Anda belum bisa memutuskan untuk diri sendiri, Anda tidak akan bisa memutuskan untuk orang lain.
3. Apakah Anda sudah mampu menangani emosi Anda sendiri? Bila orang-orang di sekitar Anda perlu
melakukan sesuatu agar Anda bisa menahan emosi, Anda sebenarnya adalah bayi tua.
4. Apakah Anda sudah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tentang hidup Anda? Misalnya, apa visi hidup Anda?
5. Apakah Anda mencari pasangan untuk berbagi kebahagiaan, atau untuk menggantikan ibu yang akan
merawat diri Anda?
Jadi, sudah dewasakah Anda?

Indonesia sudah merdeka tapi saya belum dewasa (Dirgahayu RI, 17-08-2014)

Minggu, 03 Agustus 2014

tobewow: Seorang bijak berkata, wanita...

#Sharing asik dengan Komunitas To Be Wonderful Women
Ingin lebih tahu? Kunjungi tobewow.wordpress.com


Seorang bijak berkata,
"Wanita selalu mengembalikan yang lebih untuk pria."
Jika kamu memberinya rumah, maka ia akan memberimu kehangatan dalam rumahmu.
Jika kamu memberinya beras, ia akan mengembalikan nasi untukmu.
Jika kamu memberinya cinta, ia akan memberimu pengabdian seumur hidupnya.
Tapi jika kau memberinya hinaan, ia akan memberimu doa dalam airmata kepedihannya, dan itu berarti siapkan dirimu untuk berjuta kemalangan!"

Jika kemarin kamu berdoa dan yakin bahwa dialah tulang rusukmu, maka terimalah dia bukan sebagai wanita yang sempurna, melainkan sebagai wanita yang terbaik dari Tuhan.
Bukanlah dia yang tidak pernah berbuat salah, tapi dia yang selalu berkata maaf untuk setiap kesalahannya dan ia yang punya sejuta maaf untuk kesalahanmu.
Ia yang menerima masa lalu mu dan yang siap merancangkan masa depannya bersamamu.
Ia yang selalu cemas dan hilang akal ketika kamu tak memberinya kabar.
Jika dulu sifat manjanya membuatmu tertawa lucu, cemburunya berarti sayang, airmatanya bisa menyayat hatimu, tapi sekarang semuanya itu jadi alasan kamu melepaskannya, maka renungkanlah kembali perbuatanmu!

"Mengapa wanita tercipta dari tulang rusuk pria, bukan dari tulang kepala, karena wanita bukan untuk memimpin pria, bukan dari tulang kaki, karena wanita bukan alas kaki pria, wanita tercipta dari tulang rusuk pria karena dekat dengan hati, agar wanita menjadi pendamping, penjaga hati. Karena wanita akan terlelap dalam dekapan pria. Karena wanita tahu dari sana dia berasal.

Semoga bermanfaat buat kita semua baik bagi seorang pria maupun wanita...

tobewow: Tak cukup dengan cinta

#Sharing asik dari Komunitas To Be Wonderful Women
Lebih ingin tahu? Kunjungi blognya di tobewow.wordpress.com 


By @babyhijaber 

Karena Tak Cukup Hanya Cinta.

Iya, butuh saling mengerti... Jadi kalau salah satu dibangunin Qiyyamulail ya harus ngerti, nggak cuma ngangguk2 aja terus lanjut bobok lagi.

Tak Cukup Hanya Cinta.
Iya, butuh saling menghormati... Kalau hormat sama suami pasti nggak rela lekuk2 tubuh yang mestinya hak ekslusive dia tiba2 dijadikan "pemandangan umum". Butuh menjaga pandangan, agar tatapan mesra dan menawan itu cukuplah menjadi hak ekslusive istri tercinta.

Tak Cukup Hanya Cinta.
Iya, butuh keikhlasan... Keikhlasan sepenuh hati berbakti dan sepenuh hati menunaikan kewajiban serta keikhlasan untuk legowo mengoreksi diri sama2 untuk menjadi better person every day.

Tak Cukup Hanya Cinta.
Iya, butuh semangat yang kuat... Mengayuh bahtera sesuai "track" yang diperintahNya, butuh semangat melalui jeram-jeram yang bisa datang kapan saja.

Tak Cukup Hanya Cinta.
Iya, butuh kesabaran saat berjuang bersama dan kerendahan hati saat merasakan kesuksesan bersama, bukan sebab aku atau kamu, semua terjadi atas seizinNya.
Iya, tak cukup hanya cinta untuk menjalankan bahtera ini sampai ke surga.

Ummu Balqis
26072014

Bincang-bincang seru di tahun 2014. Ini kita!

Malam hari ini dengan niat mengedit pembahasan skripsi malah buka blog. Kangen sama blog ini yang lama-lama udah nggak ber-ruh.

Pertemuan Sabtu kemarin sebenarnya dilatarbelakangi oleh ajakan Angga untuk jogging dan renang pada Kamis. Tetapi, karena hal-hal itu nggak bisa gue ikuti pada Kamis, gue mulailah mengajak teman-teman lain jogging pada hari Sabtu. Secara liburan masih ada, gue rasa pas banget kalau kita ketemuan Sabtu tanggal 2 Agustus 2014. Dudu OK, Desty OK, Aini OK, Ridha OK, Ade OK, Wahyu OK tetapi sang pelatar belakang bilang "Kalau gue bangun, ya". As usual... 

Pagi menjelang siang, gue dan Ridha baru datang dengan cantiknya sedangkan Aini dan Desty telah lusuh dimakan matahari di Rotunda. Niat jogging terlaksana dengan mengitari UI dan akibat itu gue baru tahu letak-letak fakultas hahaha... *selama ini nggak diperhatikan. Dari MUI yang letaknya dekat Perpustakaan, gue dan Ridha melewati Fakultas Hukum, lalu belok ke kiri, nah itu ada fakultas apa ya (duh lupa), terus lanjut Fakultas Ekonomi, lanjut Fakultas Teknik, juuut Stadion UI, eh berasa ketemu teman SMA yang ternyata hanya kesiweran mata saja, juuut ke Rotunda. Bertemulah kami dengan Aini dan Desty. Sepi gimana gitu... apa karena gue kesiangan, ya? Apapun deh, yang pasti masih ada penjual minuman dan kakek penjual layangan. Layangannya Rp2000 loh! Dikira Rp5000 hahaha berniat nawar nggak jadi karena itu woooow murah euy. Syalalala main-main di Rotunda dengan layangan mungil, merasa mengganggu yang masih jogging berhentilah layangan diterbangkan, hmm padahal nggak terbang-terbang sih.

Oke, para lelaki di Kukel yang secara hellooow gue nggak tahu itu dimana. Akhirnya, kami para wanita keceh ke MUI. Dan kumpulah kami di pojokan kantin MUI yang sebelumnya merasa tergerak hatinya untuk pindah karena ada 'tabunan rokok'. Makan-makan sambil ngobrol ngalor-ngidul sampai gue nggak ngerti inti pembicaraannya kemana. Hingga adzan Zuhur berkumandang, kami memutuskan ke rumah gue (baca: Istana Princess Mega). Pake skenario Ridha tertinggal di MUI biar diboncengi motor Wahyu hahaha mohon maaf ya, Ridha ceritanya biar nggak ada yang naik angkot. Alhasil, Ridha, Dudu, Wahyu, dan Ade nyampe duluan di Istana Princess. Sedangkan sang Princess masih milih-milih sepatu kaca *preeet...

Ki-ka: Ridha, Desty, Aini, Ade, Wahyu, dan Dudu.
Asyiknya tuh di sini! Perbincangan demi perbincangan hadir membumbui pertemuan kita. Dan kabar-kabarnya, salah satu teman SMA akan menyempurnakan agamanya dekat-dekat ini, Insyaallah. Bercerita tentang masa-masa SMA di antaranya kisah memenangkan lomba PMR (tandu) dengan tokoh utama korban ialah gue dan kisah kasih di sekolah yang diperankan oleh Ade dan Ridha *ihiy. Alhasil, Ridha merasa tak enak hati di-ceng-in terus menerus. Padahal Dha, Ade itu hatinya melompat-lompat karena dia kangen di-ceng-in hihihi. Ya kan, De? De? De?... (tanya sama konde). Aduh! Ampun, Dha.

Hati Ridha menjadi gelisah tatkala kentang goreng telah habis dilahap. Hehehe. Ia gelisah karena sang ayah menyuruhnya pulang di kala hari sudah sore. Ridha yang disuruh pulang, malah Wahyu yang pulang duluan. Dan baru tahu, ternyata Wahyu pulang karena malamnya mau ke Pangrango. Awas, ya, Way! Gue nggak rela kalau loe pulang nanti gendong perempuan lain*!
*perempuan lain berbaju putih berambut panjang bernama Kunti hihihihihi...
Setelah Wahyu pulang, gue antar Ridha ke rumahnya, secara Wahyu nggak mau diboncengin Ridha. Hmm eh salah deh, Wahyu nggak mau memboncengi Ridha. Tuh, Dudu! Lo mah mau cewek, mau cowok, mau cowok berbentuk cewek juga mau aja diboncengin.

Perbincangan makin seru, nih. Awalnya apa yah hingga ke pembicaraan ini. Hmm mungkin kisah kasih di sekolah atau syalalala hhe. Lanjut dengan proposal pernikahan dan tanya jawab dengan Ust. Herlambang Satrio. Hhe. Cieeee kita udah gede! Ngomonginnya beda! Hehehe...

Memang suatu saat kita akan menemukan Prince/ Princess kita tapi kita tahu kisah Cinderela yang mempersiapkan dirinya mengikuti pesta istana dengan memohon ibu peri memberikan gaun cantik dan kereta kencana lalu dengan sekejap berubah menjadi cantik jelita dengan gaun dan sepatu kaca hingga akhirnya ia menemukan pangerannya dan hidup bahagia selamanya. Begitu pun ingin kita bukan? Tetapi bukan dengan sekejap mata berubah cantik, karena hidup kita tak sekedar dua jam seperti kisah Cinderela. Kita perlu mempersiapkan segalanya sebelum hari itu tiba, mempersiapkan ruhiyah, ilmiyah tsaqafiyah, jasadiyah, finansial, dan sosial. Pernah inget, MR pernah bilang, Allah menjamin bahwa pria yang baik untuk wanita yang baik, dan begitu pun sebaliknya. MR melanjutkan, jadi saat kita sedang memperbaiki diri, ia pun sedang memperbaiki diri. Hmm... Lalu, timbul pertanyaan dari Ade, "Terus, Mega udah siap?" Gue ditanya begini rasanya pengen nyebur ke laut. Yang pasti, gue tidak ingin tergesa-gesa tetapi ingin disegerakan pada saat yang tepat dan terbaik, Insyaallah.

Lalu, apa itu jodoh? Jika yang telah menikah pun belum tentu berjodoh apalagi yang pacaran, bukan? Nah loh! Kata Ust. Herlambang Satrio, jika yang telah menikah hingga wafat masih dalam ikatan pernikahan, itulah jodohnya. Jika bercerai, hingga wafat ia tidak menikah lagi, mantan suami/ istri terakhir itu jodohnya. Ups salah! Kata Ust. Herlambang Satrio ya, nggak bercerai juga! Jika hingga wafat ia tidak menikah, bagaimana? Mungkin di surga-lah jodohnya berada. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Ah, siapapun jodohnya, semoga kita dipertemukan dengan orang yang tepat dan terbaik hingga meraih surga-lah visi dari keluarga kita :) Aamiin.

Yang kaya? Yang tampan? Yang baik? Apa yang sholeh, nih? Jawabnya, kriterianya dilihat dari agama, keturunan, kedudukan/kekayaan, dan ketampanan. Ngomong-ngomong kriteria, gue, Aini, dan Desty bersyalalala. Gue yang iri sama teman sejawat yang hafizh Qur'an, keluarga pendakwah, baik sekali, dan tidak sombong, mungkin juga rajin menabung. Kalau bisa, ingin yang seperti dia, Ya Allah, bagi satu, Ya Allah... Aamiin. Aini dengan segera mengetik SMS kepada seseorang yang katanya okeh punya dan berniat memperkenalkannya dengan cewek keceh kayak gue dan Desty. Alhasil, nggak berhasil karena nggak mau sama anak IPB jiaaah udah ketahuan dia takut nilainya B (maksudnya, kalau jadi sama yang se-universitas nilainya B *apa deeeh). Iiih sorry banget, lagian eikeh juga nggak mau sama situh! Jadi sinis, hahaha...

Lanjut ke perbincangan proses. Kata-kata yang muncul adalah ta'aruf dan proposal. Aini berpikir, ia kemungkinan tidak memakai cara ta'aruf karena sulit menerima orang baru. Gue dan Desty juga berpikiran gitu, sih alasannya biar nggak shock aja ngeliat polah tingkah gue. Hehehe. Lebih memilih, orang yang sudah tahu karakter gue, dan dengan sadarnya bahwa gue-lah yang tepat dan terbaik menjadi pendampingnya. Mungkin, gue tipe yang senang untuk dicintai dan mudah menerima. Tetapi, Allah Maha Kuasa, saat ini sih gue berpikir begitu, mungkin pemikiran ini akan berubah atau tidak, ya seiring dengan pemahaman gue. Hmm, proposal. Sebenarnya, udah punya draft proposal itu, tapi sampai sekarang belum dibuka karena dirasa belum butuh untuk diisi, belum mau ngelamar juga *eh. Biarlah waktu yang menjawab. Aih, jadi inget janji dengan seorang sahabat, "Kalau gue belum menikah di umur 25 tahun, gue ikhlaskan semua via ta'aruf". Yah, masalah ngomong mah gampang, ya. Tapi ada rasa khawatir jadinya, pernikahan bukan masalah tepat waktu tetapi waktu yang tepat dan terbaik. Aduh, janjinya bisa diralat, nggak ya? Pesan: jangan asal janji, woy! Tahun 2017, Anda berumur 25 tahun. Ngok!

Tanggung jawab dan keluarga. Ust. Herlambang Satrio bilang, "Sang ayah biasanya akan mudah menerima yang setara atau lebih tinggi darinya." Wajar sih pernyataan ini. Orangtua kita udah membesarkan dan merawat kita hingga besar akhirnya dipinta untuk melayani orang lain. Ya, nggak rela-lah kalau yang minta juga nggak memberikan kepastian tanggung jawab dan kebahagiaan untuk anaknya tercinta. Ijab qabul tercermin di sini, setelah mengucapkannya, kebahagiaan sang istri menjadi tanggung jawab suami. Jika tidak bahagia, suami berdosa kepada orangtua, orangtua suami juga orangtua istri. Begitu kata Ust. Herlambang Satrio dengan Dudu yang manggut-manggut mendengarkan.

"Gue sangat kagum sama orangtua gue dimana mereka nggak saling menceritakan kejelekan bahkan sama anak-anaknya." ungkap Aini. Ini yang gue inginkan. Tapi ada hal lain yang dikhawatirkan, saat sudah berkeluarga, apakah bisa tahan dengan segala ketidakcocokan yang ada atau malah bosan sama pasangan sendiri? Belajarnya gimana, ya biar nggak bosan? Dan tiba-tiba gue pake nyeplos, "Ya, belajarnya otodidak". Apaan lagi? Hahaha kayaknya gue salah tangkep pelajaran, deh. Maaf teman-teman saya salah. Hmm, berarti berkeluarga juga perlu berkreativitas, ya.

Bincang-bincang seru ini tidak menyadarkan kita bahwa malam telah berpukul 9.00 WIB. Aini dan Desty nggak mau menginap malah pulang yang akhirnya Desty dianterin Dudu sampai Citayam. Aini naik ojek ke rumahnya di Cagar Alam. Dan Ade dengan sabar menunggu kehadiran Dudu kembali.

Asik sumpah, loh! Jarang sekali kita ngobrol hal-hal bersama seperti ini. Bagi gue, ini menambah kesadaran gue untuk mempersiapkannya jauh-jauh hari. Hhe. Begitu pun dengan kalian. Terimakasih ya, sob. :) Sukses untuk segala rencana dan aktivitas. Semoga Allah SWT meridhoinya. Aamiin.

Ki-ka: Aini, Dudu, Ade a.k.a Ust Herlambang Satrio, Desty, dan gue (Princess Mega)

Mohon maaf untuk segala becanda yang terlewat batas. Jika tidak berkenan, bilang ya! Bagaimanakah saya meraih puncak surga jika tengah surga tak diperkenankan. Mohon maaf juga dengan kesalahan lisan yang diucap, kesalahan tingkah yang diperbuat, mohon diberitahu dan maklumi. Terimakasih :)

Minggu, 21 Juli 2013

tapi tidak dengan cinta...

inilah suatu masa dimana kita bisa merasa
begitu merasa
suatu hari kau dan aku bersama dengan dekap
begitu dekat
kita berpikir atau malah bertanya?
hanya kita yang menduga

aku takut kau pun takut
tak berani berkata ini apa
aku mau kau pun ternyata mau
urusan hati paling dinanti tak mau pergi

terlalu muda atau naif urusan ini
kita hanya tak berkata
lagi dan lagi
merasa dunia akan mendukung kita

tapi waktu pun menjawab
karena kita tak mampu berkata
hari-hari yang dilalui hanyalah tanya
kini adalah pijakan yang mesti dijawab

aku pikir untuk tetap pada jalan ini 
tapi waktu pun yang menentukan
kau berbeda dalam hal ini
berbelok untuk menepi dalam kebenaran

aku tertinggal
jujur, aku tertinggal dari kesebelahpihakanmu
aku mengerti dalam kebenaran ini
kau malah lebih mengerti

tapi, saat ini aku dan kau telah jadi lain
sombong berpikir paling benar
aku yang terlalu angkuh agar dihargai
kau yang terlalu angkuh agar sendiri

kita memang berbeda dalam cara
kita memang berbeda dalam pikir
kita memang berbeda dalam bicara
tapi tidak dengan cinta... 

Minggu, 30 Desember 2012

Ciyeee udah gede...

Seminggu yang lalu udah kirim formulir pendaftaran untuk calon tentor di salah satu bimbel ternama. Aku dan temanku, Liplip mendaftar. Awalnya, sulit  banget kirim CV kami karena imel yang tertera tidak berlaku lagi. Kiranya, kami tidak masuk.

Tadaaa... Liburan di Garut dan jauh dari dunia internet menjadikan kami lupa lamaran kami. Setelah turun dari Gunung Papandayan, eh wow dapat SMS bilangnya "Selamat yu guys, yu dapet diterima di tes calon tentor" (intinya begitu). Dan 2 hari lagi kami harus ke Bogor dan ikut tes. Gembira... (padahal baru ikut tes).
Malamnya sebelum ke Bogor, aku terus di depan komputer berhubung internet, cari cari bahan SD SMP. Baca-baca... karena di SMS pemberitahuannya, kami akan tes akademik dan microteaching. Sampe jam 1 malam... mata mulai pusing dan kepala mulai samar... Matiin komputer, tidur.

Besoknya... hari H. Aku dan Liplip bertemu di St. Bogor janjian jam 11 pagi. Naik angkot 03 dan mulai celingukan mencari alamatnya karena sebelumnya belum tahu. Ketemu sama Akang manis dan ternyata dia juga mau ikut tes, kami mencari tempat bimbel tersebut. Yuhuu gampang juga.
Hati kami mulai nggak keruan. Dag dig dug...
Urutan kegiatan kami :

  1. Kami bersapa bapak/ ibu yang ada di sana
  2. Registrasi ulang dengan mengisi nama, bahan ajaran, no. hp
  3. Sholat Zuhur
  4. Tes kepribadian. Dan aku liat hasil pilihanku, condong A dan B, Liplip A dan D. Yah begitulah... Mulai bingung apakah ini kepribadian ekstrim atau nggak... Ah, bodolah, yang penting jujur.
  5. Tes Microteaching. Sebelumnya, aku udah mempersiapkan materi kelas 5 SD, Adaptasi Hewan Thp Tumbuhan. Dan di tes ini, dilihat cara mengajar dan percaya diri. Karena aku orangnya lupaan, buat aja deh catatan kecil pas presentasi bisa liat sedikit-sedikit. Hehe... Aku dipanggil, dan rasanya tuh lupa semua materi. Kaku mulai terasa pas memperkenalkan diri, aku mulai berceloteh ttg materi. Sok asik, sok ramah, sok oke, pokoknya aku keluarin semua jurus2 sok. Hasilnya, menurut aku garing, nggak mantep. Akkkh... 
  6. Tes Akademik 2 jam. Inilah tes terlama dan terlapar. Ada psikotest, tes angka, tes seri. Semuanya bikin mumet... Ya, lakukan yang terbaik aja deh (diisi semua)
Setelah selesai semua, aku dan Liplip sholat Ashar. Keluar dari tempat bimbel tersebut, muka kami kucel, belom makan, pusing, lemes. Timbul deh diri-diri nggak PD. Liplip said "Masih ada Bimbel lain, nih udah dapet CPnya" Dueeng, belom ada pengumuman lolos atau nggak, serasa udah tau apa isi pengumumannya. Jiaah...

Yang penting setelah itu, kami makan. Belum makan membuat kami brutal "Awas cewek galak". Yap ketemu tukang ketoprak eh tapi nggak ada tukangnya, rasanya mau obrak-abrik tuh gerobak. Untung, kami nengok ke kanan, Triiiing! Hoka-hoka bento. Segera kami pakai NOS feet, nguuuing nyampe di hokben. Dan makan-makan dengan lahap. 

"Aduuuh, bentar dulu ya, Obi. Perut gue sakit nih." Liplip said. Jiaaah, begitulah kabar orang yang makan di kelaparan sangat dan makan dengan sangat lahap. Oke, santai... Sambil nunggu tuh perut yang nggak beres, kami ngobrolin hal-hal yang kami alami di tes lamaran kerja itu dan tiiiing hua jeb kami beradu pandang dan "AAAA KITA UDAH GEDE"

Yap, kerasa banget bagi kami pengalaman tersebut. Baru kali ini kami melamar kerja dan tes. Dan baru kami ingat dan sangat terasa bahwa kami udah gede. Orang yang biasanya merengek ke emak bapak, sekarang pergi dengan tekad melamat pekerjaan. Waaah, kami terharu. Dan nggak pantes lagi rasanya buat masih bertindak kayak anak kecil karena kamu udah gede! Huuuua... Udah gede dan rasanya kayak ditimpa batu gunung di pundak. 

Dan orang-orang sekeliling seolah meledek. "Ciyeee udah gede..."